Jambi  

Penjaga Denyut Nadi Batanghari : Perlombaan Melawan Waktu di Pundak Para Maestro

Jambireview, Jambi- Di teras rumah panggungnya yang mulai dimakan usia, Datuk Saharman (66) menatap permukaan Sungai Batanghari yang kecokelatan. Matanya yang mulai merabun seolah sedang membaca riak air, tempat di mana legenda Tapa Malenggang berakar. Baginya, sungai itu bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi identitas masyarakat Desa Kilangan yang kini terancam sunyi.

“Cerita ini bukan milik saya, ini titipan nenek moyang. Kalau saya pergi dan tidak ada yang menyambung lidah, maka matilah jati diri kami sebagai orang Batanghari,” bisiknya dengan suara parau namun sarat penekanan.

Datuk Saharman adalah satu dari hanya dua maestro yang tersisa. Bersama Datuk Zainul, mereka adalah “perpustakaan berjalan” bagi sastra lisan Tapa Malenggang. Namun, sebuah kenyataan pahit tersaji dalam data ilmiah, Indeks Daya Hidup sastra lisan ini berada pada angka 0,42. Dalam kacamata sosiolinguistik, angka ini adalah sebuah lonceng kematian yang berbunyi nyaring.

Alarm Merah dari Balai Bahasa
Ristanto, Widyabasa Ahli Madya dari Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan yang telah bertahun-tahun meneliti fenomena ini, memandang kondisi Tapa Malenggang dengan raut cemas sekaligus optimis. Baginya, angka 0,42 bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan cerminan dari jurang generasi yang menganga. “Secara spesifik, Tapa Malenggang sedang mengalami kemunduran serius,” ujar Ristanto saat ditemui di sela-sela observasi lapangannya.

“Maestro kita hanya tersisa dua orang, dan keduanya sudah berusia di atas 65 tahun. Ada keengganan dari generasi muda—bahkan anak-anak kandung mereka sendiri—untuk mewarisi tutur ini. Jika kita tidak melakukan intervensi sekarang, dalam sepuluh tahun ke depan, kisah ini mungkin hanya akan menjadi catatan kaki di buku sejarah yang berdebu,” kata Ristanto lagi.

Ristanto menekankan bahwa nilai strategis Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro (DKPM) tahun 2025 bukan sekadar soal mendokumentasikan kata-kata, melainkan menyelamatkan “roh” kebudayaan yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sejak 2019. “Menjadi WBTB saja tidak cukup. Tanpa penutur, sebuah warisan budaya hanyalah fosil,” tambahnya.

Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan
Di sisi lain, tantangan terbesar adalah bagaimana membuat anak-anak era TikTok dan YouTube mau duduk mendengarkan kisah ikan Tapah raksasa.

Taufik Hidayat, Direktur Yayasan Gena Nusantara, yang bergerak di lini depan aktivasi kebudayaan, melihat masalah ini dari sudut pandang sosiokultural.

“Kita tidak bisa memaksa anak muda untuk sekadar menghafal teks kuno. Kita harus memberikan ‘ruang’ agar mereka merasa memiliki cerita itu kembali,” kata Taufik.

Melalui kolaborasi dalam Pergelaran Sastra Lisan 2025, Taufik dan timnya berupaya membedah gaya tutur maestro dan mengemasnya menjadi pertunjukan yang relevan.

Taufik menceritakan bagaimana proses pendekatannya kepada 15 penutur muda yang terdiri dari siswa SD dan SMP. “Awalnya mereka asing. Namun, saat mereka melihat Datuk Saharman mencontohkan ‘melenggang’—gerakan yang bukan sekadar tari, tapi filosofi hidup tentang fleksibilitas dan ketenangan—mereka mulai terpesona. Di situlah ada titik balik. Tugas kami adalah memastikan api yang dipantik para Datuk ini tidak padam saat ditiup angin modernitas,” katanya.

Melenggang di Antara Arus
Kembali ke Datuk Saharman. Baginya, kisah Tapa Malenggang adalah cermin kehidupan. Tapa Kudung yang pemarah dan Tapa Tembago yang keras kepala selalu gagal menghadapi rintangan sungai. Hanya Tapa Malenggang yang menang karena kesabaran dan kecerdikannya mencari celah.

“Anak-anak sekarang harus seperti Tapa Malenggang,” ujar sang Datuk sambil tersenyum tipis saat melihat 15 muridnya berlatih di panggung Desa Kilangan. “Zaman sekarang arusnya deras, kalau mereka keras kepala atau cepat marah, mereka akan tenggelam. Mereka harus bisa melenggang, mengikuti arus tapi tidak terbawa arus.”

Puncak pergelaran pada 2 Juli 2025 bukan sekadar pertunjukan seni. Bagi Ristanto, Taufik Hidayat, dan khususnya Datuk Saharman, malam itu adalah sebuah upacara penyerahan tongkat estafet. Saat 500 pasang mata penonton menyaksikan anak-anak muda itu menuturkan kembali petualangan di Sungai Batanghari, ada sebuah helaan napas lega dari sang maestro.

Denyut nadi Tapa Malenggang kini mulai terasa lagi di tangan-tangan mungil generasi baru. Meski perjuangan masih panjang, setidaknya malam itu, Sungai Batanghari kembali menjadi saksi bahwa kebijaksanaan tidak akan dibiarkan tenggelam begitu saja. (aiz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *