Jambireview.com, Kerinci – Tuanku Tiang Bungkuk, Sejarah alam Kerinci juga banyak meninggalkan cerita legenda kepahlawanan, diantaranya Tuanku Tiang Bungkuk, seseorang yang terhormat, wibawa, serta gagah berani yang menentang keras untuk patuh kepada kekuasaan Kerajaan Melayu Jambi. Ia lebih memilih mati dengan kehormatan daripada hidup dalam kehinaan di bawah penjajahan.
Perlawanan yang Berujung Penjara
Seusai dikurung beberapa bulan dalam penjara hingga awal tahun 1526 M, Tiang Bungkuk menyadari bahwa ia tak bisa lagi melakukan pemberontakan sendirian. Di mana pada saat itu Rakyat Kerinci sudah mayoritas tunduk kepada Kerajaan Melayu Jambi. Ia pun merasa khawatir akan keselamatan anak, istri, serta keluarganya di Kerinci.
Dalam doa dan istikharahnya, ia memutuskan jalan terakhir:
“Daripada menyerah kalah kepada Rajo Melayu Jambi yang hanya pandai memungut uang jajah kepada rakyat, lebih baik mati berputih tulang di ujung keris pusako sendiri, daripada hidup berputih mata menanggung malu.”
Pusaka Keris Tubanso
Sebelum menunaikan niatnya, Tiang Bungkuk berpesan kepada kakak perempuannya di Tamiai, Kerinci, agar mengirimkan Keris Tubanso, pusaka yang diyakini lahir bersamaan dengan dirinya. Menurut cerita, keris kecil itu disimpan oleh ibunya di Tiang Tuo dan hanya kakaknya yang mengetahui rahasianya. Firasat sang ibu mengatakan bahwa tubuh Tiang Bungkuk tak akan mempan oleh senjata lain kecuali keris tersebut.
Kakak perempuannya kemudian menyelundupkan keris itu dalam batang lemang beras pulut bercampur jagung, lalu membawanya ke Jambi. Saat lemang itu diterima, Tiang Bungkuk paham maksud dari pesan pusaka tersebut.
Akhir Hidup Sang Pahlawan
Tepat ketika matahari sepenggal naik, Tiang Bungkuk menikam dadanya dengan Keris Tubanso. Tusukan itu menembus jantung, darah mengucur deras, dan ia menghembuskan napas terakhir dengan cara yang ia pilih sendiri.
Para penjaga penjara terkejut saat menemukan ia telah wafat. Namun peristiwa yang lebih mengejutkan terjadi kemudian. Saat jenazah hendak dimandikan, tiba-tiba petir menyambar, guntur menggelegar, dan ruangan dipenuhi asap hitam hingga gelap gulita. Setelah asap hilang, jasad Tiang Bungkuk pun raib tanpa jejak.
Kabar pun tersebar bahwa ia “hilang bersama petir”, menjelma menjadi legenda.
Keresahan di Kerajaan Jambi
Kematian dan hilangnya jasad Tiang Bungkuk menimbulkan keresahan di lingkungan istana Jambi. Pihak kerajaan sadar bahwa mereka telah memperlakukan tawanan perang secara tidak manusiawi: dihina, disiksa, bahkan pernah diikat di bawah perahu Pangeran Temenggung.
Padahal perjuangan Tiang Bungkuk bukan semata melawan raja, melainkan mempertahankan kedaulatan Kerinci yang sejak lama berada di bawah payung Kerajaan Pagaruyung, bukan Jambi.
Warisan dan Legenda
Meski jasadnya raib, Kerajaan Jambi tetap mengirimkan pakaian, jubah, dan perlengkapan Tiang Bungkuk kepada keluarganya di Tamiai sebagai bentuk pertanggungjawaban. Hingga kini, benda pusaka tersebut masih tersimpan dan dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Beberapa lokasi diyakini sebagai makamnya, antara lain di Solok Sipin dan Rantau Mojo, Muaro Jambi. Namun kebenarannya tetap menjadi misteri.
Kakak perempuannya kemudian kembali ke Kerinci melalui jalur Sarolangun, lalu menetap di Muaro Rupit setelah menikah dengan penduduk setempat. Keturunannya masih ada hingga kini, terutama di desa Tarusan Muaro Rupit.
Gelar adat dan kisah heroik Tiang Bungkuk pun terus hidup dalam ingatan masyarakat Kerinci, dikenang dalam kenduri adat dan legenda turun-temurun.
Penutup
Tuanku Tiang Bungkuk adalah simbol perlawanan rakyat Kerinci terhadap penindasan. Walau oleh Kerajaan Jambi dianggap pemberontak, bagi masyarakat Kerinci ia tetap pahlawan yang mempertahankan martabat negeri.
Warisan keberanian dan legenda hilangnya jasad beliau menjadi bukti bahwa perjuangan demi harga diri dan kedaulatan akan selalu hidup dalam sejarah, meski tubuh sang pejuang telah raib ditelan misteri.












