Oleh : Rahmat Rifqi Pratama, SH
Menjadi mahasiswa merupakan suatu keistimewaan tersendiri bagi seorang anak muda yang telah menamatkan pendidikan di bangku sekolah menengah atas atau sederajat. Gelar yang disandang sebagai mahasiswa tidak hanya berarti sebagai seseorang yang terdaftar di perguruan tinggi semata seperti yang disebutkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), melainkan lebih dari itu. Pengertian diatas hanya lebih mengerucut pada pengertian secara administratif yang terlalu sempit.
Menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa merupakan kebanggaan sekaligus tantangan. Suatu kebanggaan karena gelar mahasiswa melabelkan bahwa seseorang adalah kaum intelek dan terdidik di perguruan tinggi yang berkutat dengan buku dan ilmu pengetahuan serta pengaplikasiannya. Menyandang posisi tersebut juga merupakan tantangan karena menjadi mahasiswa harus menjalankan tanggungjawab yang bukan hanya sekedar duduk di bangku perkuliahan dan menerima materi kuliah dari dosen lalu pulang. Tanggungjawab yang dimaksudkan adalah menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi (TDPT) seutuhnya.
Tri Dharma Perguruan Tinggi antara lain yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu pondasi dan pilar dasar yang membedakan mahasiswa dengan siswa. Jika siswa hanya menjalankan dan mendapatkan point pertama saja maka mahasiswa berkewajiban menjalankan dan mendapatkan point kedua dan ketiga. Oleh sebab itu, untuk mengoptimalkan tanggungjawab tersebut mahasiswa harus berperan aktif yang bukan saja di bangku perkuliahan tetapi juga dituntut untuk aktif berorganisasi. Point pertama dan kedua yaitu pendidikan dan penelitian didapatkan melalui proses perkuliahan dan penelitian bersama dosen di masing-masing bidang ilmu, maka point ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat di dapatkan melalui proses di organisasi kemahasiswaan yang beragam macam, bentuk, tujuan, latarbelakang dan keberadaannya (intra dan ekstra kampus).
Selain sebagai wadah untuk menjalankan tanggungjawab yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi, organisasi kemahasiswaan juga merupakan wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan minat, bakat dan potensi diri serta tempat pengembangan soft skill yang sudah dipastikan tidak didapatkan di ruang perkuliahan.
Pada hakikatnya aktivitas berorganisasi tidak bisa lepas dari aktivitas mahasiswa dan sebenarnya ia menyatu-padu, namun hari ini muncul mind set yang keliru dari kalangan mahasiswa pragmatis yang mengatakan bahwa dengan berorganisasi akan mengganggu proses perkuliahan dan mahasiswa akan lama menamatkan studi. Bagi kalangan mahasiswa baru (angkatan baru) mereka akan membenarkan pernyataan tersebut karena mereka membayangkan begitu beratnya beban yang dipikul menjadi mahasiswa dan pertanggungjawaban yang harus dipersembahkan kepada orang tua dengan menamatkan studi tepat waktu, sehingga pandangan keliru inipun diwariskan dari generasi ke generasi, yang pada akhirnya lahirlah hari ini mahasiswa yang hanya berorientasi pada hasil bukan proses.
Untuk menanggapi pandangan keliru tersebut penulis bisa mengatakan bahwa “mahasiswa yang tidak berorganisasi itu ketika menamatkan studi bukanlah sarjana yang paripurna”, lalu muncul pertanyaan “mengapa demikian?” Jawabannya adalah karena mahasiswa yang hanya “kuliah-pulang” atau bahasa trendnya “kupu-kupu” tidak melewati fase pengembangan diri yang optimal, mereka tidak berproses dan mereka cenderung berada pada posisi dan zona nyaman. Di dalam diri manusia terdapat kekuatan dan potensi besar yang perlu dikembangkan (stimulus dan respon) dan wadah untuk mengembangkan itu satu-satunya adalah melalui organisasi yang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa. Jika mahasiswa dibaratkan sebagai seorang Gatot Kaca dalam cerita pewayangan Jawa, ia harus ditempa dan dibina didalam kawah Candradimuka yang diibaratkan sebagai organisasi sehingga melahirkan seorang Kesatria yang perkasa. Begitupun seorang mahasiswa yang harus menempa diri, berproses secara optimal dan keluar dari posisi nyamannya agar supaya pasca menjadi mahasiswa menjadi insan yang paripurna dan bermanfaat bagi masyarakat banyak serta cepat diterima di dunia kerja berkat soft skill yang dimilikinya.
Apa yang didapatkan mahasiswa dari berorganisasi?
Banyak hal yang didapat dengan ikut serta berorganisasi yang dipastikan tidak didapatkan dalam proses perkuliahan. Secara sederhana dengan berorganisasi sudah barang tentu mahasiswa akan terlatih jiwa leadership (kepemimpinan) untuk memanajemen diri sendiri, orang lain, dan organisasi. Dengan aktivitas yang padat antara perkuliahan dan organisasi akan membuat mahasiswa menjadi mampu untuk memanajemen waktu dengan baik sehingga hari-hari yang dilalui akan bermanfaat dengan kegiatan-kegiatan yang positif.
Dalam proses berorganisasi terdapat bermacam-macam agenda organisasi seperti rapat, diskusi dan eksekusi kegiatan. Dari ketiga pokok tersebut akan menempa anggota organisasi untuk mampu berpikir luas, kritis, kreatif dan berkomunikasi dengan cakap dalam menyampaikan argumen dan pandangan untuk menyelesaikan satu persatu agenda organisasi. Selain itu, melalui organisasi mahasiswa juga mendapatkan peningkatan wawasan pengetahuan yang tidak diperoleh secara teoritis di perkuliahan melainkan harus dipraktekkan secara langsung seperti pengetahuan memimpin rapat, pengadministrasian, pengelolaan training, dan lain sebagiannya.
Dalam organisasi manapun terdapat tiga pokok utama organisasi yaitu anggota, kerjasama dan tujuan. Organisasi mahasiswa merupakan lahan praktek nyata bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri terjun di dunia kerja. Oleh sebab itu, tidak bisa dielakkan bahwasanya orang-orang yang cepat diterima di dunia kerja adalah orang-orang yang memiliki soft skill dan kemampuan manajerial yang memadai.
Alasan yang tidak kalah penting mengapa mahasiswa harus berorganisasi adalah networking (jaringan). Berorganisasi itu adalah bekerjasama, baik secara internal organisasi (sesama anggota) dan tidak tertutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan eksternal organisasi (organisasi lain), dengan melakukan kerjasama akan membangun relasi dan jaringan dengan banyak orang bahkan dengan tokoh-tokoh penting seperti akademisi, politisi, birokrat dan lain sebagiannya, sehingga mahasiswa yang aktif berorganisasi tidak akan merasa canggung bilamana berhadapan dengan orang-orang penting penjabat sekalipun.
Oleh sebab itu, keikutsertaan mahasiswa dalam organisasi adalah sebuah kewajiban dalam rangka memupuk diri dan menempa diri untuk menjadi pribadi paripurna di kemudian hari. Sejarah pun telah membuktikan, semangat perubahan yang besar dalam jiwa berbangsa dan bernegara Indonesia terlahir dari rahim mahasiswa/ pemuda yang melek dan aktif dalam organisasi atau perhimpunan, berkat semangat progresif itulah kita hari ini merasakan alam kemerdekaan. Hidup mahasiswa. (*)












