Sumatra, Pulau Emas yang Hampir Kehilangan Cahaya

Jambireview.com, Kerinci – Sumatra, di pedalamannya pada berabad-abad silam terdapat sebuah nama daerah yaitu Suruaso, wilayah yang tidak dikenal dengan persawahannya saja, namun disekitar wilayahnya terdapat sumber emas yang melimpah.

Daerah Suruaso ini melekatlekat dengan sejarah besar Adityawarman, raja yang berkuasa di Minangkabau pada abad ke-14. Di daerah ini ditemukan dua prasasti penting berbahasa Sanskerta dan Tamil. Keduanya bercerita tentang pembangunan saluran irigasi yang mengairi persawahan sekitar Suruaso. Prasasti tersebut menegaskan bahwa Adityawarman bukan hanya seorang penguasa, melainkan juga pemimpin yang memperhatikan pertanian dan kesejahteraan rakyatnya.

Sistem irigasi itu dimanfaatkan untuk mengairi persawahan yang dalam prasasti disebut sebagai “taman Nandana Sri Surawasa yang senantiasa kaya akan padi.” Fakta ini menunjukkan betapa pentingnya sektor pertanian bagi kerajaan kala itu.

Sumatra, Pulau Emas

Dahulu, Sumatra dikenal sebagai Suvarnadvipa (pulau emas) atau Suvarnabhumi (bumi emas). Adityawarman bahkan menyebut dirinya Kanakamedinindra, “Penguasa Tanah Emas.”

Catatan sejarah membuktikan sungguh bernilainya kekayaan emas ini. Pada 1079, maharaja Palembang menyumbangkan 600.000 biji emas untuk pembangunan kuil Tao di Kanton, Tiongkok. Sumber Arab abad ke-10 juga menggambarkan bagaimana emas menjadi simbol kekuasaan raja-raja Melayu.

Wilayah penghasil emas terbesar terletak di sepanjang Bukit Barisan: Minangkabau, Kerinci, Tanah Datar, hingga Lebong. Seorang ahli geologi Belanda pernah mencatat keberadaan 42 tambang emas tradisional di Kerinci yang kedalamannya mencapai 60 meter.

Dari Kemegahan ke Krisis

Di zaman ini kejayaan itu tinggal cerita. Sebagian besar tambang emas tradisional telah terkuras sejak lama. Sisa cadangan dieksploitasi dengan cara PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin).

Aktivitas PETI tersebar di berbagai daerah:

  • Tambang darat di Perentak, Sungai Manau, Batang Asai, dan sekitarnya.
  • Pendulangan emas di sungai-sungai besar seperti Batanghari, Tebo, Sarolangun, dan Bungo.

Dari PETI ini terasa jelas dampaknya bagi masyarakat, sawah dan lah pertanian sudah tidak lagi produktif,  sumber-sumber air tercemar oleh mercuri. Perikanan musnah, air sungai tidak layak konsumsi, dan desa-desa kehilangan sumber hidupnya.

Perilaku pragmatis semacam ini memberi keuntungan sesaat, tetapi mengorbankan masa depan. Jika dibiarkan, tanah emas yang dulu melambangkan kejayaan bisa berubah menjadi daerah miskin baru akibat kerusakan lingkungan.

Harapan untuk Generasi Mendatang

Sejarah memberi pelajaran penting. Adityawarman memahami perlunya keseimbangan antara pertanian dan pertambangan demi kesejahteraan rakyatnya. Kini keseimbangan itu terancam oleh kerakusan manusia.

Pemerintah, LSM, dan masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk menghentikan praktik merusak ini. Jika tidak, warisan emas yang pernah mengharumkan nama Sumatra hanya akan tersisa dalam buku sejarah, sementara generasi mendatang mewarisi tanah rusak dan sungai tercemar.

Bumi emas ini seharusnya tetap menjadi kebanggaan bersama, bukan sekadar kenangan masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *